Karena satu dan lain hal, hari ini perempuan itu agak kesal.. Tapi ya sudahlah, ia berusaha melupakannya berkat SMS yang dia dapat dari temannya. Bunyinya begini, "View a negative experinece in your life is like how you look a photo negative, a single negative can create an unlimited number of positive prints." Bukan berarti sok bahasa Inggris yah.. Tapi SMSnya emang bahasa Inggris..
Lalu, lalu.. hari ini ia merapikan meja kerja Wakil GM di kantornya, mengarsip setumpuk kertas yang perlu disusun. Dari tumpukan kertas itu dia menemukan cetakan surat elektronik yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan dan terlihat cukup lusuh, awalnya kertas itu akan dibuang tapi entah kenapa ia merasa penasaran dengan isinya. Dan isinya adalah Opinion and Editorial yang dimuat di koran The Jakarta Post tanggal 10 Maret 2007, bunyinya begini :
Concerned Only with Money
Since 1991 I have visited many places in Indonesia, from Medan to Makassar. As I learned Bahasa Indonesia I can easily mingle with ordinary Indonesians.
My first opinion about Indonesia was very positive. Most people greeted me and invited me to their homes. In particular people in the countryside are very happy when a westerner visits their village.
After staying a long time in this country and having talked with many people at all social levels, from farmers to government officials, it seems that most have only one topic which keeps them entertained: money.
In my country, the Netherlands, people have many hobbies and ambitions. Dutch children as young as four years old want to become doctors, police officers, dentists, lawyers, musicians, dancers, etc. They are encouraged by their parents to swim, dance, sing, draw cartoons, love animals, respect nature and so on.
Indonesian children simply hang around all day in the vicinity of their house without having anything to do. They aren’t encouraged by their parents to do something useful as these parents only watch television, chat with neighbors or, even worse, sleep.
As a European I become bored of being told every day that I am rich just because I’m from Europe. Indonesians don’t care about their achievements, but only about the amount of money they acquire. The way they get this money doesn’t matter to them.
People at all levels protest daily about corruption, but most of them are themselves corrupt. If those protesters could acquire top positions they wouldn’t mind being corrupt in the same way they now accuse others.
A lot of the media, especially The Jakarta Post, run stories on widespread corruption. Unfortunately, it’s only talk with almost no action at all.
In my opinion, the high level of corruption in Indonesia is caused by the fact that Indonesians have no ambition, except to acquire money. When they have more than they need, they simply have a party, buy a car, television, or waste it on other meaningless items.
They don’t save it for their children’s education and future like we do in Europe. What’s the meaning of money if you don’t know what to do with it?
How is this country going to develop if nobody cares about their achievements but only about money?
RONALD RAMAKERS
Medan, North Sumatra
Perempuan ini berpikir dan berpikir.. Tulisan ini ada benarnya juga. Kalo kumpul - kumpul keluarga, semua orang pasti melihat apa yang orang lain punya, sebagus apa baju yang dipakai dan lebih lagi kendaraan apa yang mereka bawa. Jarang sekali mereka membicarakan pekerjaan masing - masing secara mendetail atau apa saja yang telah mereka capai, tentu saja pencapaian alias achievements yang dicapai seseorang itu tidak melulu bisa selalu diukur dengan uang. Karena kalau pencapaian atau sukses itu diidentikkan dengan uang, cara apapun otomatis bisa dihalalkan, usaha yang dilakukan pun juga bisa dikesampingkan. Kuantitas lebih dipentingkan daripada kualitas. Dan seringkali dalam pengalamannya sehari - hari, perempuan ini sering melihat kolega atau keluarganya memilih suatu pekerjaan semata - mata dari besarnya gaji yang mereka dapat.
Kalau dipikir - pikir pencapaian yang sudah didapatkan perempuan ini standar - standar saja, walaupun dari segi uang dia mengalami peningkatan. Tapi dia tahu, dari lubuk hati yang paling dalam, dia merasa tidak puas. Dia merasa sebenarnya dia bisa melakukan hal yang lebih.. lebih dari ini. Seharusnya dia bisa lebih aktif dalam organisasi, lebih aktif untuk mengembangkan kemampuannya menulis dan mencoba menginspirasi orang lain. Dia merasa perlu bangkit dan memikirkan pencapaian apa yang ia inginkan.. Dari dulu ia ingin sekali menjadi penulis, memuntahkan kata - kata yang banyak berseliweran di kepalanya. Dia berjanji akan lebih rajin menulis mulai dari majalah Gerejanya.. Jika selama ini dia menulis hanya berdasarkan "pesanan" saja, dia akan mulai menulis secara rutin.. Semua demi sebuah pencapaian, pencapaian yang tidak harus selalu diukur dengan UANG..
Pencapaian! Pencapaian! Atau dalam bahasa Inggris, Achievements! Achievements!
Rabu, November 04, 2009
Kamis, September 24, 2009
light of bright
dark of light
light of dark
flash and thunder
come and go
but I feel nothing
waiting for the bright
the bright is in front of my eyes
show me, show me how long is the process
cause I'm tired..
answer, answer my question
cause I'm curious
it's weird.. strange..
it makes my stomach sick
it makes my throat run dry
it brings tears to my eyes
I just.. just don't know what to do..
I am curious but I know, I do nothing, as usual
I'm afraid..
I'm afraid..
I'm afraid..
But once again I'm curious..
Cannot stare.. Hate to admit!!
light of bright..
bright of light..
I am c.u.r.i.o.u.s.
*Husky.. Husky.. Woof.. Woof..*
Minggu, September 20, 2009
Doakan Dia..
Menjelang malam perempuan itu mengantuk sekali. Lemesss.. Padahal hari ini libur. Mungkin karena terlalu banyak makan, mungkin karena memang karena ia sedang ingin malas – malasan. Dia mulai teringat dengan rencana yang sudah ia buat awal tahun 2009, dia ingin melanjutkan kuliah di tahun 2010. Ia sudah mulai browsing informasi dari dua bulan yang lalu, khususnya tentang informasi dua jurusan yang paling ia minati Akuntansi dan Sastra Indonesia. Akuntansi karena ia suka dengan angka, terutama angka yang teratur. Entah mengapa.. Jangan ditanya.. Karena ia juga ga tahu kenapa bisa begitu. Kalau Sastra Indonesia.. mmm.. Itu karena ia hobi sekali menulis dan ia ingin sekali bisa menulis dengan benar dalam Bahasa Indonesia. Bahasa Ibunya.. Bahasa bangsanya. Di saat banyak orang ingin sekali memperdalam bahasa asing, terutama Bahasa Inggris, ia merasa ga ada salahnya ia ingin memperdalam bahasa Indonesia.. Nah.. yang bikin perempuan itu bingung adalah, kedua jurusan itu punya kendala masing – masing. Jurusan Akuntasi tidak memiliki program ekstension, jadi kalau dia mengambil jurusan ini, ia harus kuliah lagi dari awal alias LIMA tahun.. Walaupun begitu, jurusan ini menyediakan kelas malam. Dan untuk jurusan Sastra Indonesia.. jurusan ini tidak menyediakan kelas malam.. juga tidak menyediakan kelas ekstension.. Padahal ia paling berminat kuliah di jurusan ini.
Sebenernya, membutuhkan waktu bertahun – tahun sampai ia menyadari kalau dunia tulis menulis adalah dunia yang paling ia minati. Dari kecil sampai sekarang, banyak hal yang sudah ia coba. Kalau boleh jujur, cita – citanya berubah berkali – kali. Dari dokter, polwan sampai pengacara. Waktu SD ia berganti ekstra kulikuler setiap tahun. Pertama ia ikut ekskul melukis.. Ia pernah didaftarkan sekolah ikut lomba melukis bersama Pak Tino Sidin satu kali dan kalah. Ia merasa gambarnya kalah bagus jauuuuhhhh sekali dari teman – temannya yang lain. Kemudian ia ikut ekskul Gerak dan Lagu alias Dance. Ia senaangg.. tapi tahun berikutnya ia berganti ekskul lagi.. Ia ikut ekskul Tari Tradisional karena kakak dan sahabatnya ikut ekskul tersebut. Begitu terus setiap tahun.. Ekskul Pramuka..? Dia lebih suka kabur pulang daripada ikut Pramuka.. Waktu SD dia juga ikut ekskul Dokter Kecil dan beberapa kali ikut pelatihan kesehatan. Tapi dari semua pelatihan kesehatan yang ia ikuti, cuma satu hal yang paling dia ingat.. Kalau kena luka bakar, jangan diobati dengan odol atau mentega, siram dengan air dingin atau es.. Hal ini yang bikin ia sering berdebat dengan orang tua - orang tua di keluarganya yang beranggapan odol dan mentega adalah obat paling manjur untuk luka bakar.
Yang lebih parah ketika ia masuk SMP. Ia nekad ikut ekskul Paduan Suara padahal ia tahu, walalupun ia sangat hobi bernyanyi, suaranya tidak lebih bagus dari kaleng rombeng.. *dramatisir berlebihan* hihi.. Keluarganya sudah hafal betul kebiasaannya nyanyi teriak – teriak, terutama saat ia mandi. Dan semua keluarganya sepakat, rumah terasa lebih tentram jika ia berhenti nyanyi. Tapi anehnya.. Guru pembimbing Paduan Suara membiarkan dia bertahan di ekskul Paduan Suara sampai setahun sebelum akhirnya ia tahu diri dan keluar dari ekskul tersebut.. hihi.. Setelah keluar dari Paduan Suara sahabatnya mengajak ia ikut Taekwondo.. Ia ikut Taekwondo dari kelas 2 SMP sampai 1 SMA. Ia sangat menikmati saat – saat latihan, terutama saat bertemu dengan Sabam (guru Taekwondo) yang guanteng – guanteng.. hihi.. Tapi kemudian ia tidak melanjutkan ekskul ini karena merasa tidak terlalu jago dan meski ikut terapi tulang belakang karena ternyataaaa.. Tulang belakangnya lemah dan dokter bilang ia tidak boleh terlalu sering melakukan olah raga yang berat, cukup berenang dan jogging saja.. Yasudaaaahhh.. Di SMA ia juga ikut ekskul PMR a.k.a. Palang Merah Remaja.. Cukup menyenangkan, terutama saat upacara. Dia bisa berdiri di belakang barisan dan mencari posisi paling jauh dari matahari. Lebih beruntung lagi kalo dia dapet giliran jaga di ruang UKS yang ber AC.. :)
Waktu kuliah ia sempat ikut basket di lingkungan rumahnya walau jarang tanding dan lebih sering main – main ga jelas. Dia juga ikut ekskul English Community di kampus walau jarang dateng. Tapi yang paling sering itu aerobic.. Olahraga ini masih ia tekuni sampai sekarang. Aerobic itu menyenangkan.. bisa olah raga sambil duduk, lompat – lompat sambil dance rame – rame.. Walaupun dokter melarang dia melakukan olahraga yang banyak melibatkan tulang belakang, ia tetap nekad ikut aerobic..
Selepas kuliah dan bekerja menjadi sekretaris bertahun – tahun. Dia mulai bingung sebenernya mau jadi apa.. Mengingat hobi dan ekskulnya berganti – ganti setiap tahun.. minat dan bakatnya yang kurang jelas.. Dia bingung mau jadi apa sebenarnya.. Kemudian dia teringat kebiasaan yang ga pernah hilang sejak SD. Menulis diary.. Dia ga pernah absent nulis diary setiap hari. Rasanya kepalanya penuh kalau tidak dituangkan dalam tulisan. Dia juga ingat kalau artikelnya pernah dimuat di mading sekolah, bahkan pernah sekali dimuat di koran nasional. Bermodalkan pendapat beberapa temannya yang mengatakan bahwa tulisannya bagus dan memang ia memiliki minta yang besar dalam dunia tulis menulis, dia memutuskan untuk mengambil kuliah Sastra Indonesia dan mengembangkan hobi menulisnya.
Tapi sampai sekarang dia belum tahu, apa yang harus dia lakukan dengan keputusan kuliah Sastra Indonesianya yang memiliki banyak sekali kendala. Apakah tahun depan ia akan kuliah? Kalaupun kuliah jurusan apa? Jangan – jangan dia malah kuliah jurusan manajemen, jurusan ekstension yang paling gampang dicari. Atau dia malah pindah kerja ke luar kota? Luar pulau? Luar negeri? Perempuan itu belum tahu dan belum memutuskan..
Doakan dia yaa.. :D
Sebenernya, membutuhkan waktu bertahun – tahun sampai ia menyadari kalau dunia tulis menulis adalah dunia yang paling ia minati. Dari kecil sampai sekarang, banyak hal yang sudah ia coba. Kalau boleh jujur, cita – citanya berubah berkali – kali. Dari dokter, polwan sampai pengacara. Waktu SD ia berganti ekstra kulikuler setiap tahun. Pertama ia ikut ekskul melukis.. Ia pernah didaftarkan sekolah ikut lomba melukis bersama Pak Tino Sidin satu kali dan kalah. Ia merasa gambarnya kalah bagus jauuuuhhhh sekali dari teman – temannya yang lain. Kemudian ia ikut ekskul Gerak dan Lagu alias Dance. Ia senaangg.. tapi tahun berikutnya ia berganti ekskul lagi.. Ia ikut ekskul Tari Tradisional karena kakak dan sahabatnya ikut ekskul tersebut. Begitu terus setiap tahun.. Ekskul Pramuka..? Dia lebih suka kabur pulang daripada ikut Pramuka.. Waktu SD dia juga ikut ekskul Dokter Kecil dan beberapa kali ikut pelatihan kesehatan. Tapi dari semua pelatihan kesehatan yang ia ikuti, cuma satu hal yang paling dia ingat.. Kalau kena luka bakar, jangan diobati dengan odol atau mentega, siram dengan air dingin atau es.. Hal ini yang bikin ia sering berdebat dengan orang tua - orang tua di keluarganya yang beranggapan odol dan mentega adalah obat paling manjur untuk luka bakar.
Yang lebih parah ketika ia masuk SMP. Ia nekad ikut ekskul Paduan Suara padahal ia tahu, walalupun ia sangat hobi bernyanyi, suaranya tidak lebih bagus dari kaleng rombeng.. *dramatisir berlebihan* hihi.. Keluarganya sudah hafal betul kebiasaannya nyanyi teriak – teriak, terutama saat ia mandi. Dan semua keluarganya sepakat, rumah terasa lebih tentram jika ia berhenti nyanyi. Tapi anehnya.. Guru pembimbing Paduan Suara membiarkan dia bertahan di ekskul Paduan Suara sampai setahun sebelum akhirnya ia tahu diri dan keluar dari ekskul tersebut.. hihi.. Setelah keluar dari Paduan Suara sahabatnya mengajak ia ikut Taekwondo.. Ia ikut Taekwondo dari kelas 2 SMP sampai 1 SMA. Ia sangat menikmati saat – saat latihan, terutama saat bertemu dengan Sabam (guru Taekwondo) yang guanteng – guanteng.. hihi.. Tapi kemudian ia tidak melanjutkan ekskul ini karena merasa tidak terlalu jago dan meski ikut terapi tulang belakang karena ternyataaaa.. Tulang belakangnya lemah dan dokter bilang ia tidak boleh terlalu sering melakukan olah raga yang berat, cukup berenang dan jogging saja.. Yasudaaaahhh.. Di SMA ia juga ikut ekskul PMR a.k.a. Palang Merah Remaja.. Cukup menyenangkan, terutama saat upacara. Dia bisa berdiri di belakang barisan dan mencari posisi paling jauh dari matahari. Lebih beruntung lagi kalo dia dapet giliran jaga di ruang UKS yang ber AC.. :)
Waktu kuliah ia sempat ikut basket di lingkungan rumahnya walau jarang tanding dan lebih sering main – main ga jelas. Dia juga ikut ekskul English Community di kampus walau jarang dateng. Tapi yang paling sering itu aerobic.. Olahraga ini masih ia tekuni sampai sekarang. Aerobic itu menyenangkan.. bisa olah raga sambil duduk, lompat – lompat sambil dance rame – rame.. Walaupun dokter melarang dia melakukan olahraga yang banyak melibatkan tulang belakang, ia tetap nekad ikut aerobic..
Selepas kuliah dan bekerja menjadi sekretaris bertahun – tahun. Dia mulai bingung sebenernya mau jadi apa.. Mengingat hobi dan ekskulnya berganti – ganti setiap tahun.. minat dan bakatnya yang kurang jelas.. Dia bingung mau jadi apa sebenarnya.. Kemudian dia teringat kebiasaan yang ga pernah hilang sejak SD. Menulis diary.. Dia ga pernah absent nulis diary setiap hari. Rasanya kepalanya penuh kalau tidak dituangkan dalam tulisan. Dia juga ingat kalau artikelnya pernah dimuat di mading sekolah, bahkan pernah sekali dimuat di koran nasional. Bermodalkan pendapat beberapa temannya yang mengatakan bahwa tulisannya bagus dan memang ia memiliki minta yang besar dalam dunia tulis menulis, dia memutuskan untuk mengambil kuliah Sastra Indonesia dan mengembangkan hobi menulisnya.
Tapi sampai sekarang dia belum tahu, apa yang harus dia lakukan dengan keputusan kuliah Sastra Indonesianya yang memiliki banyak sekali kendala. Apakah tahun depan ia akan kuliah? Kalaupun kuliah jurusan apa? Jangan – jangan dia malah kuliah jurusan manajemen, jurusan ekstension yang paling gampang dicari. Atau dia malah pindah kerja ke luar kota? Luar pulau? Luar negeri? Perempuan itu belum tahu dan belum memutuskan..
Doakan dia yaa.. :D
Langganan:
Postingan (Atom)